Pekanbaru, 05/04/26. Menurut Risa Oktavia Host RRI Pro 2 Pekanbaru, dalam pembukaan acara Talkshow di Pro 2 RRI Pekanbaru, pada hari Selasa, 05 Mei 2026, sedangkan Narasumbernya adalah Ricca Anggreini Munthe, MA ( Kaprodi Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau, dengan Tema ” Cyberbullying : Luka Yang Tak terlihat, ” Risa mengungangkapkan bahwa cyberbullying sering kali dianggap hal sepele oleh sebagian orang karena dianggap sebagai “cuma bercandaan” atau “hanya komentar di media sosial”.
Padahal, kenyataannya cyberbullying adalah ancaman serius dengan dampak fatal bagi kesehatan mental, psikologis korban. Berikut adalah alasan mengapa pandangan ini salah dan bahaya yang sebenarnya.
Dalam diskusi ini Ricca Anggreini Munthe, MA menjelaskan bahwa cyberbullying itu adalah tindakan atau sikap perundungan yang kerap terjadi di media sosial yaitu, perilaku agresif, kejam, dan berulang yang dilakukan melalui teknologi digital (media sosial, chat, game) untuk menakuti, marah, atau mempermalukan korban. Bentuknya meliputi penyebaran kebohongan, pengiriman ancaman, pelecehan, dan pengucilan secara online. Dampaknya serius, mulai dari stres hingga depresi.
“ sebenarnya cybrbulyying itu sama dengan bullying ( offline) hanya saja ini di muat di media sosial atau digital elektronik yaitu tindakan perundungan pengancaman melakukan intimidasi , menyebarkan konten-konten yang enggak benar terhadap sesorang , seperti fitnah ini dimulai biasanya dari rasa sakit hati, iri dengki yang kemudian membuat akun palsu” kata Ricca Kaprodi S1 Psikologi ini
Termasuk disini Hate comment juga merupakan cyberbullying yaitu, komentar kebencian, yaitu pernyataan negatif, ofensif, menghina, atau merendahkan yang ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu, terutama di media sosial. Ini merupakan bentuk cyberbullying yang bertujuan untuk memprovokasi, menyebarkan fitnah, atau memojokkan korban berdasarkan identitas, fisik, atau opini mereka,
“ biasanya konten-konten itu di edit dan dipotong sedemikian rupa sehingga menimbulkan kebencian kepada orang yang membacanya dan menontonnya”
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa cyberbullying semakin semarak di media sosia karena semakin mudah untuk membuat akun – akun palsu yang tidak diketahui siapa pemilik aslinya.
“ mungkin yang perlu diperhatikan adalah postingan sesorang yang bertujuan baik tapi di modifikasi sesorang berlawanan arah dan diterima oleh netizen sehingga yang semula atau aslinya baik, malah menjadi boomerang bagi yang memposting yang pertama kali”
Selain itu yang paling menarik adalah konten-konten creator tidak memperdulikan respon atau persepsi dari publik atau netizen yang penting kontennya menjadi viral.
Dampak cyberbullying sangat serius, seperti gangguan mental (depresi, kecemasan, stres), emosional (rasa malu, takut, terisolasi), hingga fisik (sakit kepala, perut). Korban sering kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dari sosial, penurunan prestasi akademik, dan berisiko tinggi melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri,
“disamping rasa malu, yang paling kita prihatin adalah ke dampak psikologis atau gangguan mental mereka yang jadi korban, sementara korban ini adalah korban dari akun-akun palsu, si korban ini tidak tahu, dia rupanya sudah ada yang mengambil gambarnya atau memvidiokannya dan kita tidak tahu siapa yang mempostingnya”
Terjadinya cyberbullying dampaknya sangat traumatis, lukanya tidak kelihatan karena lukanya dalam hati apalagi kalau kejadian diulang-ulang dan diposting di medsos kapan traumanya sembuh atau hilang dari pikirannya.
“dalam pandangan saya, kita perlu belajar dari kejadian yang terjadi di sekitar kita untuk mengambil hikmahnya supaya tidak terjerumus kedalam problem yang lebih parah lagi, karena manusia ini tidak ada yang sempurna maka perlu memikirkan sebelum memposting dan berkomentar di media sosial” pungkasnya
Apabila ada permasalahan mental anda, Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau mempunyai Layanan Psikologi dibawah ini :
Wassalam



