Pekanbaru, 22/04/26. Dalam diskusi Talkshow di RRI Pro 2 Pekanbaru pada Hari Selasa, 21 April 2026, Yuli Widingsih, M.Psi., Psikolog Dosen Fakultas Psikologi UIN Sulta Syarif kasim riau, mengatakan bahwa memaafkan adalah pekerjaan pikiran yang aktif bukan untuk orang lain yang membuat kesalahan tetapi untuk membalut dan membersikan jiwa dan pikiran, memaafkan juga adalah salah satu cara untuk melepaskan beban yang sempat dipikul karena adanya amarah, kecewa dan sakit hati. Dengan memaafkan, seseorang akan sadar dapat memutuskan rantai penderitaan bathin yang disebabkan oleh masa lalu.
“ konsep memaafkan itu bukanlah kita membenarkan kesalahan orang lain , tapi kita memilih untuk melepaskan rasa kecewa dan sakit hati itu dengan Ikhlas karena rasa kecewa tadi akan menjadi beban yang berat dan dapat mempengaruhi mental kita “
Dalam penjelasannya rasa kecewa yang dipendam harus sesegera mungkin dilepaskan atau dimaafkan karena kalau tidak, akan terjadi berulang ulang sehingga akan membawa luka yang dalam bagi psikis yang bersangkutan.
“ rasa kecewa dan sakit hati ini rentan terhadap anak muda yang mempunyai relasi yang tidak sehat sehingga mereka mengalami proses emosi yang begitu kronis yang mengakibatkan gangguan mental bahkan sampai depresi”
Menurutnya proses mamaafkan itu bukanlah pekerjaan yang instan tetapi membutuhkan proses dan pemikiran yang jernih untuk menyikapi rasa kecewa dan luka batin itu
“ untuk berdamai dengan rasa kecewa tadi perlu proses yang pemikiran matang sampai ada kesadaran untuk memutus mata rantai rasa kecewa dan luka bathin”
Ada beberapa langkah untuk move on dari rasa kecewa :
- Menerima kesalahan , mengijinkan diri untuk menerima perasaan benci, kesal dan perasaan negative lainnya kalau tidak menerima, akan membuat konflik berkepanjangan dalam diri sendiri
- Perlu waktu atau jeda, untuk memperbaiki proses berpikir, mengambil hikmah atau positifnya yang lebih objektif dan rasional
- Membatasi diri, dengan menanamkan pada diri sendiri tidak mau lagi menjadi orang yang tersakiti, bukan orang akan tersakiti Kembali
Memaafkan adalah salah satu akhlak yang mulia menurut Islam memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan wujud pengendalian diri, kemuliaan hati, dan sarana untuk meraih ketenangan jiwa serta menghapus dendam,
“ Ketika Rasulullah Saw memaaafkan seseorang yang telah membunuh sahabatnya kemudian yang membunuh sahabatnya ini lewat di hadapan Rasulullah, kemudian Rasulullah sempat menegurnya supaya menjauh darinya, artinya walaupun Rasulullah sudah memafkannya tapi perlu batasan dan jaga jarak supaya tidak teringat lagi kejadiannya itu” tutupnya
Yuli widiningsih, M.Psi Psikolog adalah salah satu dosen senior Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif kasim Riau dengan Keahlian Psikologi Klinis, menamatkan S2 nya di Universitas Padjajaran Bandung sekarang masih proses menyelesaikan Program S3 di UPSI Malaysia.
Wassalam



