Pekanbaru, 24 Februari 2026-Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda di lingkungan kampus. Aktivitas tetap berjalan, perkuliahan tetap berlangsung, namun ada nuansa yang lebih tenang, lebih hangat, dan lebih reflektif. Di balik ibadah puasa yang dijalankan, tersimpan proses pembelajaran psikologis yang sering kali tidak disadari.
Bagi Dr. Hijriyati Cucuani, M.Psi., Psikolog, Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau, puasa bukan hanya latihan personal, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan memperkuat relasi antarindividu.
“Puasa mengajarkan kita untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga lebih peka terhadap orang lain,” ungkapnya.
Menurut beliau, dalam perspektif psikologi sosial, empati adalah kemampuan penting yang membangun hubungan yang sehat di masyarakat. Ketika seseorang merasakan lapar dan haus, ia sedang mengalami kondisi yang mungkin menjadi realitas harian bagi sebagian orang. Dari pengalaman itu, tumbuh kesadaran dan rasa peduli.
“Ketika kita merasakan keterbatasan, kita lebih mudah memahami perjuangan orang lain. Dari situlah empati berkembang,” jelasnya.
Sebagai Wakil Dekan III yang membidangi kemahasiswaan dan kerja sama, Dr. Hijriyati melihat Ramadhan sebagai kesempatan untuk memperkuat solidaritas di lingkungan kampus. Ia menilai bahwa kegiatan berbagi, buka puasa bersama, maupun aksi sosial yang sering dilakukan selama Ramadhan memiliki dampak psikologis yang positif.
“Kebersamaan itu penting bagi kesehatan mental. Merasa terhubung, merasa menjadi bagian dari komunitas, membuat seseorang lebih kuat menghadapi tekanan,” tuturnya.
Selain empati, puasa juga melatih pengelolaan diri dalam interaksi sosial. Saat energi fisik menurun, individu tetap dituntut untuk menjaga sikap, ucapan, dan perilaku. Proses ini secara tidak langsung memperkuat kecerdasan emosional.
“Menahan diri untuk tidak mudah tersinggung atau tidak membalas dengan emosi adalah bentuk kedewasaan psikologis. Puasa memberi ruang latihan itu setiap hari,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa Ramadhan dapat menjadi momentum memperbaiki relasi yang mungkin sempat renggang. Permintaan maaf, saling memahami, dan membuka komunikasi kembali adalah bagian dari kesehatan psikologis yang lebih luas.
“Hubungan yang harmonis berkontribusi besar terhadap kesejahteraan mental. Ramadhan memberi kita kesempatan untuk memperbaikinya,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Dr. Hijriyati berharap agar nilai-nilai sosial yang tumbuh selama Ramadhan tidak berhenti ketika bulan suci berakhir.
“Semoga puasa membentuk kita menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih hangat dalam berinteraksi, dan lebih sadar bahwa kita hidup berdampingan dengan orang lain,” tutupnya.
Melalui perspektif psikologi sosial, puasa menjadi lebih dari sekadar ibadah individual. Ia adalah jembatan yang menghubungkan hati, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan kepedulian yang lebih luas dalam kehidupan bermasyarakat.

