25 Februari 2026-Ramadhan selalu hadir dengan ritme yang berbeda. Waktu terasa lebih teratur, hari terasa lebih terstruktur, dan setiap aktivitas memiliki batas yang jelas. Mulai dari sahur sebelum fajar hingga berbuka saat matahari terbenam, puasa membingkai hari dengan kedisiplinan yang konsisten. Bagi Dr. Yuliana Intan Lestari, S.Psi., M.A., yang merupakan Sekretaris Program Studi Magister psikologi UIN Suska Riau, menyatakan bahwa puasa adalah sarana efektif dalam membentuk karakter manusia, khususnya dalam hal kedisiplinan terhadap waktu.
Menurutnya, ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Di balik itu, terdapat proses penggemblengan mental yang halus namun kuat. Individu dilatih untuk patuh pada aturan waktu yang jelas—kapan harus mulai, kapan harus berhenti—dan semua itu dijalankan dengan kesadaran pribadi, bahkan tanpa pengawasan langsung dari orang lain.
“Puasa melatih kita untuk disiplin dalam menghargai waktu, meskipun tidak ada yang mengawasi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif psikologi, kedisiplinan yang lahir dari kesadaran internal jauh lebih kuat dibandingkan disiplin karena tekanan eksternal. Ketika seseorang bangun sahur tepat waktu, menahan diri sepanjang hari, dan berbuka sesuai jadwal, ia sedang membangun kebiasaan konsistensi yang berdampak pada pembentukan kepribadian.
Terbiasa mengatur waktu sejak dini hari hingga malam, individu belajar menyusun aktivitas secara terencana. Puasa mengajarkan manajemen waktu yang sederhana namun bermakna: ada waktu untuk menahan, ada waktu untuk menikmati, dan ada waktu untuk beribadah serta refleksi diri.
“Dari rutinitas yang berulang selama sebulan, terbentuk pola kedisiplinan yang perlahan menguatkan karakter,” jelasnya.
Lebih jauh, Dr. Yuliana memandang puasa sebagai sebuah “madrasah kehidupan”. Di dalamnya, individu tidak hanya belajar tentang ketahanan fisik, tetapi juga kejujuran, tanggung jawab, serta konsistensi terhadap komitmen yang telah dibuat.
“Puasa adalah sarana pendidikan karakter. Ia membentuk pribadi yang disiplin, jujur pada diri sendiri, dan bertanggung jawab terhadap waktu yang dimiliki,” tuturnya.
Di akhir refleksinya, Dr. Yuliana menyampaikan pesan khusus kepada seluruh civitas akademika Fakultas Psikologi UIN Suska Riau agar menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembenahan diri, terutama dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab.
“Saya mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk memanfaatkan Ramadhan sebagai latihan membangun integritas diri. Disiplin terhadap waktu adalah bentuk penghargaan terhadap amanah yang kita emban,” pesannya.
Ia juga menekankan bahwa dunia akademik sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang konsisten dan bertanggung jawab. Menepati jadwal, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta menjaga komitmen adalah wujud nyata dari nilai-nilai puasa yang diterapkan dalam kehidupan kampus.

