Puasa dan Pendidikan Karakter: Perspektif Psikologi dari Dr. Sri Wahyuni

Pekanbaru, 23 Februari 2026. Ramadhan selalu menghadirkan ruang hening di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Ada jeda yang terasa berbeda — jeda untuk menahan, merenung, dan menata ulang diri. Bagi Dr. Sri Wahyuni, M.A., M.Psi., Psikolog, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau sekaligus Ketua APSI (Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia) Riau, puasa adalah proses pendidikan karakter yang sangat mendalam.

Sebagai psikolog yang banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan, Dr. Sri Wahyuni melihat Ramadhan bukan hanya sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai momentum pembentukan nilai — baik bagi individu dewasa maupun generasi muda.

“Puasa adalah proses belajar yang sangat lengkap. Ia mengajarkan disiplin, kesabaran, empati, dan tanggung jawab dalam waktu yang bersamaan,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam konteks psikologi pendidikan, karakter tidak dibentuk melalui ceramah semata, melainkan melalui pembiasaan yang konsisten. Dan puasa adalah bentuk pembiasaan itu sendiri. Selama sebulan penuh, individu belajar menunda keinginan, mengatur pola hidup, serta menjaga perilaku dan ucapan.

“Anak-anak maupun orang dewasa belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Ada proses menunggu, ada proses mengendalikan diri. Di situlah karakter dibangun,” jelasnya.

Sebagai Ketua APSI Riau, ia juga menekankan bahwa nilai-nilai Ramadhan sangat relevan dengan pembentukan karakter di lingkungan sekolah. Puasa membantu peserta didik memahami makna tanggung jawab personal — bahwa integritas bukan hanya ketika diawasi, tetapi ketika seseorang sadar bahwa dirinya bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

“Puasa melatih kejujuran internal. Seseorang bisa saja tidak makan atau minum karena tidak ada yang melihat, tetapi ia memilih tetap berpuasa karena kesadaran dan nilai yang diyakininya. Ini inti dari karakter religius dan integritas,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menilai bahwa puasa juga menumbuhkan empati sosial. Ketika seseorang merasakan lapar dan haus, ia belajar memahami kondisi orang lain yang mungkin mengalaminya bukan hanya sebulan, tetapi sepanjang waktu.

“Dari pengalaman sederhana itu lahir kepedulian. Dan kepedulian adalah fondasi dari hubungan sosial yang sehat,” tuturnya.

Dalam keseharian kampus maupun sekolah, kemampuan mengelola emosi, bersikap sabar, dan menunjukkan empati adalah kompetensi psikologis yang sangat penting. Ramadhan, menurut Dr. Sri Wahyuni, menjadi laboratorium kehidupan yang melatih semua aspek tersebut secara alami.

Ia berharap, nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadhan tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan, melainkan menjadi bagian dari pola hidup setelah bulan suci berakhir.

“Ramadhan bukan hanya tentang menahan, tetapi tentang membentuk. Membentuk diri yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih berintegritas,” tutupnya.

Melalui perspektif psikologi pendidikan, puasa menjadi lebih dari sekadar ibadah ritual. Ia adalah proses panjang yang perlahan menanamkan nilai, menguatkan karakter, dan membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Leave a Reply